Informatika

Banyaknya anak IT yang tidak bisa Pemrograman.

Tulisan ini sudah sangatlah banyak di internet, itu menandakan bahwa keadaan memang seperti itu adanya. Bila kasus seperti ini banyak terjadi di daerah jawa, lalu yang terjadi di papua seperti apa ? hehe, kurang lebih sama walaupun persentase nya tidak lah sama.

Bukan sendiri penulis merasakan didatangi oleh anak IT dan meminta untuk dibantu Tugas pemrogramannya di saat sudah mengontrak Skripsi, teman-teman yang di jawa pun demikian. Seolah-olah ini sudah menjadi “kutukan” dari langit bahwa hampir semua anak IT sulit menguasai pemrograman. Semoga tidak seperti itu yah.

Beberapa hal yang penulis bisa tuliskan disini sebagai faktor penyebab “Why”, anak IT tidak bisa pemrograman.

Faktor Internal

1. Tidak Mengerti Jurusan Yang Diambilnya.

Proses masuk kuliah saja itu didorong dari pola pikir, akan menjadi apa nanti di dunia kerja, berprofesi sebagai apa ? tapi kebanyakan masih didapati bahkan banyak individu-individu yang mengambil jurusan tersebut dikarenakan mengikuti teman, asal tidak nganggur di rumah, atau lebih hebatnya lagi dikarenakan biar terlihat keren. Sampai disitu saja, lalu disaat diterima dan mengikuti perkuliahan pun asal saja.

2. Tidak mau belajar.

Belajar disini bukan sekedar mengerjakan tugas kuliah, akan tetapi mau meng-explore sesuatu dari yang telah disampaikan dosen, apalagi matakuliah pemrograman. Akan tetapi itulah kebiasaan kebanyakan mahasiswa, sekedar kumpul tugas dari dosen, dapatkan nilai, maka dianggap telah berakhir dan telah menyelamatkan sebagian masa depannya. hehe.

3. Pemikiran yang keliru.

Pernah dengar saat berbincang dengan teman, “kita belajar ini, apa gunanya juga dikantor ? tidak mungkin disuruh beginian ?” pernah ? kalau sering, berarti kita sama. Jawabannya, ialah, dikantor tidak disuruh begituan, kalau posisi mu sebagai tukang input data yang sudah ada aplikasi dari pusat. Oh ia, ralat, maksudnya “disuruh begituan” itu disuruh ngoding atau ketik-ketik kode yang orang lain lihat mata jadi sakit.

4. Tidak mau bersabar.

Bersabar atas apa ? ujian yang menimpa Papua Wamena ? atau yang menimpa negeri ini ? bukan, kalau itu, semua pasti sabar. Sabar disini ialah sabar dalam menghadapi program yang error, tidak sedikit mahasiswa yang belajar pemrograman atau memulai untuk membuat aplikasi kemudian error, maka disaat itulah perpisahannya dengan aplikasi tersebut, tak ingin dilihat lagi, tak ingin disentuh lagi, Say Good Bye. Padahal disaat error itu lah proses belajar anak IT akan mulai ter-asah.

5. Tidak Fokus

Sering lihat teman aktif organisasi ? dan bagaimana skill dia dengan program studinya ? ter-back-up atau terlalaikan ? Ada yang ter-back-up dan tidak sedikit yang terlalaikan. Aktif di organisasi sah-sah saja, tidak dilarang, tapi kalau itu membuatmu tidak bisa meng-handle program studimu, ayolah jangan takut untuk break, fokus pada awal tujuanmu kuliah, karena setelah lulus nanti yang dipertanggung jawabkan adalah gelar di Ijazah, bukan jabatan di organisasi.

Faktor External

1. Pengampu Matakuliah

Ini yang juga perlu menjadi perhatian, karena ketika dosen pengampu dapat menyampaikan materi dengan baik, serta mampu untuk memotivasi mahasiswanya, maka tidak sedikit mahasiswa yang semangat belajar untuk menekuni dunia pemrograman. Sehingga lulus pun bisa ngoding. Namun yang didapati di kampus-kampus tidak demikian, dosen kurang kompeten dalam menyampaikan materi serta tidak mampu untuk memotivasi mahasiswa. Sehingga dosen malas tahu, mahasiswa pun demikian.

2. Lingkungan sekitar

Lingkungan sekitar disini termasuk kondisi dimana tidak semua memiliki akses internet, walaupun saat ini banyak teman yang sudah memiliki akses internet IndiHome, juga sedikitnya buku penunjang serta komunitas atau tempat bertanya secara langsung terlebih bagi yang wanita, kebanyakan penguasaan materi pemrograman dominan dikuasai oleh kaum Adam. ada yang mau bertanya kenapa ? “karena wanita tidak memiliki logika, hanya perasaan.” kata salah seorang murid.

Pesan, untuk mereka yang sedang / telah lulus dengan bergelar IT atau sejenisnya, tetaplah belajar dan jangan malu jika tidak bisa ngoding, karena ngoding adalah perkara teknis, yang terpenting adalah bagaimana bisa menyelesaikan sebuah masalah atau memberikan solusi yang dihadapi dengan penerapan Teknologi.

Share:

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *